Update Bandara Kertajati 2)

Diskusi tentang Alternatif pembiayaan pembangunan Bandara Kertajati

Advertisements

​Lanjutt gan.

Ini lanjutan tulisan tentang Bandara kertajati 1).

Photo : Dokumen Pribadi

Sumber pembiayaan bagi PT BIJB bersumber dari APBD provinsi berupa penyertaan modal total 808 miliar rupiah dan sindikasi perbankan syariah dengan total komitmen 906 miliar rupiah dan tahap I baru cair 250 miliar rupiah. Sementara untuk mengejar target penyelesaian pembangunan infrastruktur sisi darat dan juga menjaga cash flow perusahaan PT BIJB perlu segera dicarikan solusi pembiayaan yang efektif, mudah dan cepat.

Penjelasan Kepala Biro SPIBUMD tentang pembiayaan ini mengerucut kepada beberapa alternatif solusi, yaitu :

Alternatif Pertama adalah usulan penambahan Penyertaan modal sekitar 200 milyar rupiah pada Perubahan-APBD 2017, tetapi ini riskan mengingat proses APBD yang cukup lama serta ketersediaan anggarannya.

Alternatif kedua, akselerasi pencairan pinjaman sindikasi perbabkan syariah sebesar 656 milyar rupiah.

Alternatif ketiga, melalui penawaran RDPT (Reksa Dana Penyertaan Terbatas) yang digawangi oleh PT Dana Reksa selaku manajer investasi.

Alternatif keempat, pembiayaan dari sindikasi perbankan konvensional.
Diluar itu juga pa Kabiro membuka peluang untuk altetnatif pembiayaan lainnya yang dapat menjadi solusi pembiayaan bagi PT BIJB.

Dirut PT BIJB melengkapi informasi yang ada dengan menjelaskan progres pembangunan bandara lebih detail dan terperinci serta  langkah-langkah pembahasan dan strategi-strategi yang sudah/sedang dilakukan berdasarkan kajian dari PT SMI selaku financial consultant PT BIJB yang mengerucut pada RDPT dan optimalisasi sindikasi perbankan syariah.

Rame pokoknya diskusinya, termasuk informasi dari Kementerian perhubungan, PT SMI, PT Angkasapura dan pejabat di lingkungan Menko Perekonomian. Rencana di tahun 2018, Kemenhub merencanakan memperpanjang runway menjadi 3000 meter sehingga bisa didarati pesawat jumbo seri 777.

Photo : dokumen pribadi

Terkait proses Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) pihak Dana Reksa menjelaskan bahwa proses pendaftaran sedang berlangsung di OJK diharapkan dalam 2 minggu ke depan sudah turun ijin yang merupakan langkah pembuka untuk memulai menawarkan RDPT ini kepada calon investor. Yang butuh perjuangan dan kerja keras adalah bagaimana meyakinkan calon investor tentang jaminan investasi pada proyek pembangunan bandara kertajati ini.


Well makin melebar nich bahasan,
tapi juga nambah wawasan pengetahuan.
Kegamangan calon investor ini terkait beberapa hal yang belum tuntas, karena akan berpengaruh kepada ekuitas perusahaan di masa depan diantaranya :

1. Status Bandara Husein Sastranegara

2. KSO Kerjasama operasi PT BIJB dengan PT  Angkasapura II.

3. Inbreng lahan Pemprov Jabar.

4. Kejelasan aksesibilitas ke bandara dari jalan tol dan akses jalan non tol.

Makin siang makin memanas, tetapi kondisi tetap terkendali karena semburan sejuk AC memberi ketenangan. Apalagi sodoran box snack mengalihkan sesaat konsentrasi tentang diskusi ini (konsentrasi sayah maksudnyahh).

Akhirnya bapak Asdep Pemukiman, Pertanahan dan Pembiayaan Infrastruktur selaku pimpinan rapat menyimpulkan tentang harus ada langkah kongkrit dari semua pihak untuk memecah kebuntuan ini yang tentunya tidak lepas dari permasalahan yang membuat galau para calon investor.

Pertemuan ditutup meskipun belum menyelesaikan masalah tetapi minimal peta permasalahan dan alternatif solusi sudah ada secercah cahaya yang mungkin terang berpijar dan menyelesaikan semuanya. Sekaligus juga warming up untuk rapat sore hari yang akan dipimpin Menko Bidang Kemaritiman dan dihadiri bapak Wagub Jabar, Deddy Mizwar.
Pertemuan ditutup seiring dengan pembagian kotak makan siang karena waktu di jam dinding yang menempel setia di ruang rapat sudah melewati pukul 13.15 wib. Kotak diterima dengan sukacita karena cocok dengan keinginan stomach yang sudah kukurubukan alias berteriak alami karena sudah lapar. 

Tetapi tangan tidak jadi memulai makan siang karena ternyata kotak makan ini hanya berlaku untuk pagi dan petang, bukan untuk siang. Nggak percaya?… nich lihat bungkusnyaah.

Photo : dokumen pribadi
Percaya khan?… akhirnya rombongan bergerak keluar area lapangan banteng dan makan siang Soto Pak Sadi di jalan Ir  H. Juanda, di traktir pak Kadis Perhubungan Jabar, “Hatur Nuhun pak Kadis.”

Photo : dokumen pribadi



Wassalam. (Akw)

RDPT, Reksa Dana vs Dana Reksa

Sambil ngisi waktu di kereta, ternyata beda antara dana reksa dengan reksadana. Beda bingit…

Photo : Dokumen pribadi

Nyubuh (berangkat shubuh) lagi ke Jakarta menjadi rutinitas mingguan, dan Argo Parahyangan menjadi pilihan utama karena bebas macet plus ada kepastian waktunya. Bukan hanya gebetan (buat yang singel) ataupun istri tercinta yang butuh kepastian, tapi kita semua butuh kepastian hehehe. Meskipun kita harus yakin bahwa satu hal yang sudah pasti yaitu datangnya kematian, yang belum tahu itu… ya waktunya masing-masing. Yang pasti saya ikhlas klo orang lain duluan.

Photo : Dokumen pribadi

Stasiun Cimahi menjadi saksi hadirnya diri diawali shalat shubuh di mushola yang asri, naik kereta sangat dinikmati, kumaha deui tibatan naik mobil macetozz. Mencoba terlelap tapi urung mata terkatup, akhirnya jemari menari lagi menjalin hurup memintal kata sambil menerawang tentang agenda rapat hari ini. 

Photo : Dokumen pribadi

Disaat Argo Parahyangan berhenti sejenak di Stasiun Purwakarta, tak bosan untuk mencari posisi mengabadikan kumpulan gerbong bekas yang bertumpuk di sisi kanan jalur kereta, eksotik.

Melihat undangan rapat hari ini yakni Rapat koordinasi tentang progres pembiayaan dan skema kerjasama operasional bandara Kertajati adalah hal menarik karena merupakan kali pertama sebuah bandara diinisiasi dan dibangun oleh pemerintah provinsi melalui BUMDnya yaitu PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Meskipun tentu tidak seluruh pembangunan sarana prasarana, karena kewenangan pemerintah provinsi hanya sisi darat saja sementara pembangunan sisi udara adalah kewenangan pemerintah pusat, tetapi tetap ini suatu kebanggaan bagi jawa barat.

Menyikapi rencana pembiayaan bagi PT BIJB yang sudah jelas adalah penyertaan modal dari APBD Provinsi Jawa Barat yang mencapai 700an Miliar ditambah dari obligasi daerah (yang akhirnya nggak jadi), terus bulan lalu mendapat pinjaman dari Sindikasi perbankan Syariah dengan komitmen 906 Miliar dan telah cair tahap I sebesar 250 M serta sekarang sedang berproses tentang RDPT.

Nah RDPT itu apa?…

Klo kepanjangannya adalah Reksa Dana Penyertaan Terbatas, klo pengertian resmi menurut Peraturan OJK Nomor 37/POJK.04/2014 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak  Investasi Kolektif Penyertaan  Terbatas adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari pemodal profesional yang selanjutnya diinvestasikan oleh Manajer Investasi pada Portofolio Efek yang berbasis kegiatan Sektor Riil. 

Wadduh euy jadi serius ginih, klo pengertian Kegiatan sektor riil itu apa? (Harap maklum bukan ekonom 🙂 )

Pasal 1.2 POJK ini ngejelasin yaitu kegiatan baik secara langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan produksi barang, penyediaan jasa di sektor riil termaduk tetapi tidak terbatas dalam rangka produksi barang dan/atau modal kerja dari kegiatan tersebut. 

Photo : Dokumen pribadi

Agak puyeng juga memahaminya, maklum baca sambil goyang-goyang ngikutin liukan Argo parahyangan yang begitu lincah menyusuri perbukitan purwakarta, trus keburu keder juga pas liat POJK 37/2014 ini yang lumayan tebel, 13 BAB 66 Pasal.

Belum lagi pas inget selain Reksa Dana ada juga Dana Reksa, apa bedanya?… paling juga pengertiannya sama tapi bolak balik nulisnya.

Penasaran mendera, googling dech.. ehh ternyata beda. Klo Reksa Dana itu adalah produk investasi yang mewadahi dana dari pemodal/investor yang selanjutnya diinvestasikan oleh Manajer investasi. Nah klo Dana Reksa Persero itu adalah salah satu nama  perusahaan BUMN yang memiliki anak perusahaan yaitu DIM (Danareksa Investment Management) yang merupakan perusahaan manajemen investasi di indonesia.
Jadi beda bingit, singkatnya Reksadana itu Produk Investasi dan Dana Reksa itu nama Perusahaan Manajer Investasi yang lengkapnya bernama  PT Danareksa Investment Management. Perusahaan sejenis diantaranya adalah PT Succorinvest Asset Management, PT Bahana TCW Investment Management, dan PT Trimegah Asset Management serta banyak lagi.

Ah udah ah, entar nambah puyeng. Tapi kata orang tua, mending puyeng tapi nambah wawasan dari pada santai tapi kurung batok (nggak gaul)…. akhirnya setelah 3 jam berlalu, Argo Parahyangan berhenti di stasiun Gambir, Jakarta mengantarkan kami untuk beredar di ibukota negara merapatkan sebuah cita-cita besar mewujudkan bandara internasional di Jawa Barat. (Akw)