Lobster Gajah di Plara

Sahur seafood di Plara yang super duper istimewa nikmat tiada tara. Tralalala…

Advertisements

(Lobster Gajah segar) Photo : Dokumen pribadi

Perjalanan malam ba’da shalat tarawih bukan tanpa alasan. Sebetulnya bisa saja berangkat dari sepulang jam kantor. Tetapi berbuka bersama dengan anak istri dilanjut tarawih berjamaah itu ‘sesuatu‘. Kebetulan juga disepakati oleh rekan-rekan di kantor. Tepat jam 9 malam, rush hitam melesat memasuki tol pasteur menuju pintu tol padalarang sebagai awal perjalanan panjang menuju wilayah Palabuanratu Kabupaten Sukabumi.

Melalui rute Cianjur – Kota Sukabumi – Cibadak – Cikidang – Palabuanratu dengan pertimbangan malam hari tidak akan terjebak macet. Alhamdulillah relatif lancar sehingga dengan kecepatan sedang bisa melahap rute sesuai perkiraan. Jam 01.00 dini hari memasuki wilayah Palabuanratu dan dengan bantuan google map bisa tiba di lokasi yang direncanakan.

Photo : Dokumen pribadi, saung ijuk di pagi hari.

Code name SIAY (Saung Ijuk Abah Yadi) yang menjadi target tujuan, sengaja 3 orang rekan yang ikut tidak diberitahu tujuan, maksudnya khan surprise. Agak khawatir juga karena dari area pantai palabuanratu ternyata harus belok kanan dan masuk jalan berliku diantara rumah penduduk, sawah dan kebun hingga sedikit terdiam pada saat agak mentok depan kuburan, waktu menunjukan jam 01.15 Wib. Biarpun bulan shaum itu setan diiket, tapi ……  bulu kuduk meremang itu manusiawi hehehe.

Saung Ijuk di Pagi Hari

Ternyata belok kiri sedikit sudah tiba di lokasi. Rumah panggung sederhana serta agak sepi. Turun dari mobil mlipir di kiri rumah dan ternyata di dalam ada bale-bale serta saung yang dipisahkan oleh kolam ikan. Terlihat seseorang bersarung tertidur menanti tamu yang datang pada waktu dini hari. Sungguh luar biasa kesediaan menerima kami yang tidak tahu waktu ini, hampura bah.

Pantai Palabuanratu dilihat dari halaman Saung Ijuk. (dokpri).

Ditengah pagi buta, sambutan hangat dan ramah begitu memancar dari tuan rumah. Sodoran kopi gayo tanpa gula membuka keceriaan rasa ditambah dengan tawaran makan sahur yang  segera dipasak mendadak… itu luar biasa. Mau tau sajian istimewa apa yang disajikan?.. itulah inti dari tulisan ini. Mau tau atau mau tau bangeet?..

(Lobster Mutiara) photo : Dokumen pribadi

Ya udah… menu yang dipesan tidak ada yang khusus karena super mendadak. Baru kemarin sore japri via WA ke Abah Yadi sang Owner SIAY, “Stok yang ada aja bah.” Ternyata stok yang ada adalah Lobster Gajah yang langka, lobster mutiara & Lobster Hijau, Raina/Spanner crab dan Udang King Prawn. Seafood Party bro…..

Kekhawatiran kembali merayap, “Jangan-jangan nggak kuat bayar. Lobster khan mihiil.” Tapi lahaola aja, dan untuk menyadap budget harus berapa, raga bergerak menuju dapur tempat seafood istimewa ini dimasak. Alhamdulillah didapat patokan harga yang insyaalloh sesuai bekal yang disiapkan. 

Tepat jam 03.00 wib sajian seafood ala Saung Ijuk Abah Yadi tersaji. Untuk disantap dalam acara sahur istimewa. Semua mata terbelalak, terutama melihat lobster gajah ya g sudah terbelah berisi daging segar yang menggoda selera. Tapi tidak ada yang berani nyentuh duluan, apalagi pa Hafid di benaknya penuh tanda tanya, “Itu apa mirip binatang purba?”

Photo : Dokumen pribadi

Menu yang tersaji adalah :

1. Lobster gajah/ Long Nose Lobster bumbu asam manis.

2. Spanner crab/ Ranina / frog crab, kuyutuk (bahasa lokal) 

3. Udang King Prawn / Jerbung 

4. Lobster Mutiara saus tiram

5. Buncis rebus

6. Nasi putih

7. Teh tawar panas

Kemooon… sikat. Don’t forget to say :

Allahumma bariklana fiima rozaktanaa wakina adzabannar’

Spanner crab

Setelah dicontoin nyomot daging lobster, semua rebutan dan menikmati sajian seafood yang luar biasa maknyuuuus bingiit. Apalagi udang mah udah pada kenal, ludes hitungan menit.

Selain itu yang agak mengernyitkan dahi rekan-rekan adalah Spanner crab yang mirip-mirip monster pembunuh di film “Predator”  dibintangi Kang Arnold Schwarzenegger. Padahal enak bingitt dan akhirnya kami berempat tersungging puas untuk sahur istimewa ini serta nyaris kamerkaan (kekenyangan).

Photo : Dokumen pribadi

Haturnuhun Kang eh Abah Asep Yadi. Hidup Saung Ijuk!!!!

Sambil menunggu imsyak dan kumandang adzan shubuh, kembali kami berbincang penuh keakraban. Membagi kenangan lama yang tak lekang dimakan waktu. Tak terasa belasan tahun lalu disaat masih bersama-sama berjuang untuk mencari identitas dan jatidiri kehidupan fan sekarang bisa bertemu jua. Meski akhirnya kumandang adzan shubuh yang menyudahi berbagi kenangan karena Adzan adalah pengingat & mengingatkan kita untuk senantiasa bersujud kepada Allah Subhanahu wataala.

Photo : Dokumen pribadi

Setelah shalat shubuh kami membagi tempat berbaring. Saya dengan pa hendri menempati kamar di Loteng dan Pa Hafid dengan pa Heri sudah terlelap di lantai bawah beralas tikar serta angin pagi sepoi-sepoi yang melelapkan.

Photo : Dokumen pribadi (ki-ka : akw-abahyadi-hafid-heri, hendri yg motret)

Sebelum pamit menyempatkan diri mengabadikan diri bersama Abah Yadi di Saung Ijuknya yang Eksotis Romantis. Buat yang penasaran dan ingin menikmati seafood segar khususnya lobster jumbo. Tinggal search aja di google map

Saung Ijuk Abah Yadi. 

Pasti langsung muncul dech. (Akw)

Plara di pagi ceria

Beredar sekitar pantai dan pelabuhan ikan Plara sebelum ikutan melepas kepergian para assesor UGG.

Photo : Dokpri

Adzan shubuh ternyata terlewati saking nikmatnya menyusuri alam mimpi. Untungnya tak berapa lama bisa segera terbangun dan tergopoh berwudhu. Tuntas shalat segera mandi dan bersiap karena agenda hari ini masih padat.

Sebelum menuju lokasi acara, liat jam ternyata masih pukul 06.17 Wib. “Wah bisa beredar dulu di pantai dan pelabuhan ikan nich”

Tak butuh keputusan lama-lama, segera diarahkan rush hitam menuju arah barat palabuanratu, tujuan terdekat yaa… pantai Karanghawu.

Photo : Dokpri

Hanya 15 menit sudah sampai di lokasi dan prinsip yang dianut anak muda sekarang adalah No photo is hoax. Atuh terpaksa harus berpose dan lumayan ngos-ngosan karena ikutan loncat-loncat demi tuntutan yang mainstream yaitu jumpshoot mania. Ada juga yang saking asyiknya meloncat tidak sadar kulit perut ikut terkuak karena ingin melihat pemandangan Pantai Karang hawu.

Photo : Dokpri

Onggokan karang yang berjajar di pantai karanghawu menjadi saksi kehadiran kami. Deburan air asin menambrak karang menjadi sensasi tersendiri. Sepatu lapangan sangat cocok untuk menjejak karang meskipun agak berat disaat meloncat karena ditarik sang gravitasi.

Tuntas beredar di pantai Karanghawu, ditutup oleh segelas kopi pahit dadakan ala warungan yang ternyata kopi sachet sudah berpadu gula. Terpaksa diteguk meski sayang sudah melanggar protokol diet yang ada. Sekali-kali boleh dooonk, please.

Photo : Dokpri

20 menit kemudian, sudah beredar di pasar ikan pelabuhan palabuanratu. Melihat beraneka ikan segar yang begitu menarik hati. Tetapi karena elmu milih ikan seger sangat minim, takut katipu, juga yang pasti mah bekel terbatas… hehehe bilang atuh titatadi. Jadinya cuman mondar mandir jeprat jempret saja sambil membalas tawaran pedagang dengan senyum setulus dan semanis mungkin.

Photo : Dokpri

Ternyata beraneka warna cat perahu, amis segar ikan laut, cumi dan teman-temannya memberi sensasi tersendiri. Maklum karena jarang beredar di pinggir laut jadi terasa menyenangkan.

Photo : Dokpri

Akhirnya sang waktu jua yang harus memisahkan daku dengan suasana pagi ceria. Segera menuju area Kantor Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk mengikuti acara pelepasan Tim Assesor dari UGG (UNESCO Global Geopark) yaitu dari Rumania dan Korea Selatan dalam rangka penilaian Geopark tingkat dunia yang telah berkeliling menilai dan pastinya melihat langsung puluhan geosite yang terbentang di kabupaten Sukabumi ini yang secara resmi dilepas oleh Bp Wagub Jabar Demiz dan Bupati Sukabumi serta Tim GNCP lainnya.

Photo : Dokpri

Besar harapan bahwa Geopark Ciletuh ini bisa menjadi Geopark tingkat dunia yang diakui secara formal. Seiring doa sejuta harap terpanjat demi wujudkan cita, salah satu kawasan di Jawa barat yang diakui Dunia. Hidup GNCP.

Setelah acara resmi berakhir, maka kamipun kembali bertolak menuju Bandung untuk mengejar agenda selanjutnya.

Bye plara (04/08). (Akw)

Plara-Cikidang-Plara 010817

Catetan sewaktu beredar di Palabuanratu Kabupaten Sukabumi pada Awal Agustus 2017

Photo : Dokumen pribadi

Perjalanan menempuh 120 km dari bandung menuju arah Barat daya provinsi jawa barat tepatnya ke kabupaten sukabumi ditempuh dalam waktu hampir 7 jam perjalanan dengan kondisi traffik yang lumayan padat tersendat. Berarti rata-rata 17 km/jam kecepatan berkendaraan. Penyumbang kemacetan yang cukup signifikan adalah kebijakan buka tutup karena perbaikan jalan di jalan pelabuhan II cikembang. Sehingga kami terdiam menunggu antrian cukup menjemukan.

Berhenti sejenak di area terminal Cikembar untuk menikmati makan siang, ati ayam ditemani telor ceplok bumbu dan sayur paria cukup mengganjal rasa lapar yang mendera. Cukup 10 menit saja maksinya. Rush hitam kembali menyusuri jalan berkelok di menuju palabuanratu.

Photo : Dokumen pribadi

Tiba di lokasi pertemuan, hampir tepat waktu. Ya terlambat 5-10 menit dan segera bergabung dengan Tim Keukeuh Perintis KEK di Jawa barat yang sudah 2 hari lalu bergerak di Kabupaten Sukabumi dalam rangka mendukung optimalisasi fungsi tim GNCP (sasieureun sabeunyeureun) dengan agenda menerima Assesor dari UGG (UNESCO Global Geopark) yaitu dari Rumania dan Korea Selatan dalam rangka penilaian Geopark tingkat dunia juga melihat langsung puluhan geosite yang terbentang di kabupaten Sukabumi ini khususnya koridor Palabuan ratu – Ciletuh hingga Ujung Genteng. Rapat siang ini dalam rangka pembahasan strategis tentang rencana usulan proposal untuk kawasan ekonomi khusus (KEK) di Kabupaten Sukabumi. 

Rapat dipimpin oleh Prof Deny dan Bp Dodi Asisten Ekbang Kabupaten Sukabumi. Dimana Kehadiran Kawasan ekonomi khusus ini adalah fasilitas dari pemerintah yang bertujuan mempercepat investasi masuk ke Indonesia, kawasan dapat meningkat pembangunan infrastrukturnya (klo salah, please koreksi). Termasuk poin-poin penting KEK ini mencakup fasilitasi Perpajakan, kepabeanan, cukai; Lalu lintas barang; Ketenagakerjaan; Keimigrasian dan Perizinan/non perizinan.

Photo : Dokumen pribadi

Syarat yang paling utama menurut Prof Deny adalah status lahan yang clear dan clean. Artinya sudah ada status tanah yang akan diajukan dan dibuktikan dengan sudah adanya sertifikat kepemilikan minimal 100 hektar. Syarat lainnya banyak ada sekitar 17 item, tetapi itu bisa berproses yang tentunya perlu sinergi yang tepat antara pihak-pihsk yang berwenang mengusung yaitu antara pemerintah dan badan usaha, jikalau badan usaha yang menjadi pengusung maka dukungan pemerintah daerah harus betul-betul maksimal karena para pihak ini harus seiring sejalan.

Sebagai calon pengusung KEK di Kabupaten Sukabumi, pa Dani dari Cikidang resort memberikan presentasinya dan menyatakan tertarik untuk menjadi pengusung KEK di kabupaten Sukabumi ini. Meetingpun berakhir dan rombongan melanjutkan untuk mengikuti rubicon kuning meninjau area Cikidang Sukabumi. Perjalanan menuju lokasi ditempuh hampir 1 jam dengan jalan mulus tetapi berliku dan menanjak serta sempit sehingga perlu extra waspada sang pilot mengendarai tunggangannya masing-masing.

Tiba di Lokasi menjelang sore, sejenak rehat sambil menikmati cemilan tradisional. Lalu melihat copy site plan yang ditunjukan sang pemilik. Namun pertemuan tidak bisa lama, karena ada perintah untuk kembali ke Palabuanratu untuk menemani pa Wagub Demiz makan malam, yang rencananya esok akan hadir melepas kepulangan tim Asesor Unesco Global Geopark.

Photo : Dokumen pribadi

Tentu sebelum berpisah diabadikan dulu pose bersama dilatarbelakangi bangunan club house Cikidang yang megah.

Rombongan terbagi dua, ada yang kembali ke palabuanratu dan ada yang lanjut ke Cibadak dan pulang ke Bandung.. of course ke rumah masing-masing. Karena kebetulan penulis masuk kelompok yang balik lagi ke palabuanratu maka tulisan ini berlanjut.

Tiba di sekitar pantai palabuanratu suasana sudah menggelap, segera rombongan kecil menuju rumah makan yang dituju dan….. tadaaa… menu makan malam seafood menyambut… euh menyambut pa wagub maksudnya, kita mah cuman ikut-ikutan.

Photo : Dokumen pribadi

RM Asrie di tepi pantai palabuanratu menyajikan aneka olahan seafood yang menarik selera. Selisih 15 menit, rombongan wagub tiba dan makan malampun dimulai. Sajian udang, kepiting, lobster dan tumis kangkung bersiap disantap. Para pejabatpun berjejer mengelilingi sajian utama bersama sang Naga bonar.

Photo : Dokumen pribadi

Bapak Kadis Kehutanan menemani pa Wagub menyantap lobster, meskipun klo diperhatikan photonya kayak dua orang yang sedang rebutan lobster.. ups maap. Yang pasti pa wagub menikmati sajian yang ada. Penulispun ikutan nimbrung, menikmati makan malam seafood yang melimpah dan gratisss.. karena ada yang bayarin. Hatur nuhun pa Kabiro Umum.

Photo : Dokumen pribadi

Makan malam berakhir ditutup dengan Duren Party, meskipun terus terang nggak berani ngabisin sama cangkangnya, takut disangka ngelmu atau kesurupan.

Gitu dulu yach ceritanya, karena harus segera mencari penginapan di sekitaran palabuanratu yang katanya sudah penuh karena ada even penilaian geopark Ciletuh dari UNESCO yang berlangsung seminggu ini. (Akw).