T&M di Sukabumi

Kembali berceloteh tentang T&M alias tugas dan makan, maka ditulislah apa yang sudah dimakan. Jangan lupa baca doa sebelum makan.

Advertisements

Perjalanan menuju wilayah Kabupaten sukabumi tak lepas dari tunainya tugas dan terpenuhinya janji. Memenuhi undangan rapat adalah salah satu kewajiban, jarak yang terentang menjadi pengalaman tersendiri untuk dijalani dan tentu ditafakuri.

Bandung – Sukabumi tepatnya daerah Cikidang berjarak 140 kilometer dan jarak tempuh versi gog-mep 4 jam 34 menit dalam kondisi lalulintas normal. Klo kenyataan bisa mencapai 7 jam lebih karena kemacetan sudah dimulai dari turunan jembatan layang paspati menuju pintu tol pasteur akibat dari proyek gorong-gorong yang katanya sebulan lagi kelar. Trus padat merayap di jalur tagog apu padalarang, daerah Karang tengah Cianjur karena aktifitas bubrik (bubar pabrik) dan terakhir yang parah di daerah Cimangkok Sukabumi dengan suasana sama karena aktifitas keluar masuk kendaraan dan karyawan pabrik di wilayah tersebut.

Secara kasar dengan perhitungan rasa, terlihat bahwa rasio jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan sudah tidak seimbang. Apalagi kalau membandingkan data pertumbuhan mobil dan motor yang beredar di jabar di bandingkan pertumbuham jalan… itu pasti jauh pisaaan. Makanya konsep pemerintah tentang pembangunan jalan tol sukabumi – bandung menjadi stategis. Alhamdulillah tol Bocimi (Bogor – Ciawi – Sukabumi) sedang dibangun. Harapannya tentu lanjutannya yang sudah di konsep dalam dokumen pra desain adalah sukabumi – Ciranjang, Ciranjang – Padalarang yang selanjutnya terkoneksi dengan ruas tol Cipularang.

Tapi ada hal penting lain yang menyangkut kebijakan pemerintah terkait pembatasan umur kendaraan bermotor roda empat dan roda dua. Hanya saja implementasinya belum jelas hingga kini.

Photo : Mesjid besar di Warung Kondang-Cianjur / dokpri.

Balik lagi ah ke urusan cerita perjalanan kali ini. Yang pertama sebelum masuk ke wilayah sukabumi, singgah dulu ke Mesjid di daerah Warung Kondang Cianjur ….. untuk sejenak rehat dan laporan kepada Sang Maha Pencipta. Nuansa sejuk dan damai menyelimuti rasa memberi kesejukan sebelum berlanjut menuju arah tujuan dunia.

Photo : Interior Mesjid di Warungkondang / Dokpri

Memasuki wilayah Cimangkok Sukabumi maka jalan tersendat dan lebih sering terdiam. Ya gimana lagi… tinggal sabar dan sabar. Akhirnya mendengarkan musik dan ber WA ria menjadi hiburan sementara.

Alhamdulillah perjalanan yang tersendatpun bisa terlewati hingga memasuki wilayah kota Sukabumi… wah waktunya sudah cocok untuk makan siang….. Sambil menuju daerah Cibadak yang menjadi perbatasan menuju Kabupaten Sukabumi, disitu menemukan pengalaman berkuliner yang bisa jadi rujukan dikala perut keroncongan dengan rasa yang dijamin ngangenin.

Photo : Rumah makan di Cibadak / dokpri.

Lebih tepatnya ditunjukin sama pa bos yang dulu pernah lama bertugas di Sukabumi. Beliau nunggu kami dan makan bareng-bareng. Warungnya sederhana sempit dan tempat duduk terbatas. Posisinya juga tidak dipinggir jalan, tapi sedikit masuk ke gang. Untuk parkir mobil harus di seberang jalan, itupun rebutan.

Menu yang tersaji adalah aneka sop baik sop daging, sop kikil, sop babat serta aneka jeroan ayam, sapi, kambing plus dendeng sapi dilengkapi perkedel kentang serta kerupuk aci. Sopnya disajikan panas – panas, nikmat pake bingit dech. Trus pelayan dan (kayaknya) merangkap pemilik juga lincah dan ramah melayani para tamu yang datang. Dengan harga terjangkau, kami bisa makan sepuasnya dan melewati siang ini dengan ceria.

Photo : Capture Yutub Bazit.

Perjalanan di lanjutkan menuju wilayah bukit Cikidang tempat meeting akan dilakukan. Bicara Cikidang maka serasa akrab karena sudah dipublikasikan onlen di yutub dengan akun ‘bazit‘ yang mentraslate adegan film yang dibintangi bruce willys dengan bahasa sunda yang agak kasar tapi jadi menghibur dengan judul ‘nyasab ka cikidang‘, buat yang ngerti bahasa sunda dijamin tersungging minimal senyum simpul. Ah udah ah… kok jadi ngomongin bazit.

Tiba di tempat meeting dan dilanjut nginap mungkin nanti ditulisnya, sekarang lagi concern sama kulinernya. Esok hari jam 11 siang meetingpun usai, segera kendaraan dikebut menuruni perbukitan Cikidang hingga tiba di pertigaan jalan raya yang menghubungkan Cibadak dengan Palabuanratu. Sopir reflek mengarahkan kendaraan ke kanan dan berhenti di halaman warung sate.

“Kok brenti disini pa?” Kami bertanya. Sang sopir jawab malu-malu, “Maaf pa, itu daging kambing mentah yang menggantung menarik saya untuk berhenti”.

“Moduuuuss kamuu!!!” Kami serentak teriak sambil tertawa, karena memang kami semua sudah mulai merasa lapar.

Photo : Sate + sop + kopi item / dokpri.

Ternyata feeling sopir terbukti benar, sajian sate kambing dan sop kambingnya maknyus dilengkapi dengan minuman penutup yang begitu ngangenin yaitu kopi item minus gula. Entah apa merknya tapi rasanya cukup memuaskan lidah dan nenangin hati. Meski nggak pake V60 ataupun fresh bean yang di grinder ngedadak, tapi bisa bertemu segelas kopi pahit adalah kenikmatan yang wajib disyukuri. Alhamdulillah.

Itu saja secuil cerita kuliner jalur Bandung ke Cikidang Sukabumi PP. Selamat wayah kieu (Waktu saat ini). Wassalam. (Akw).

Cikidang nggak jd Begadang

Menembus malam menjemput harapan, sebuah perjalanan yang menjadi bukti ketaatan dari tugas pekerjaan berbalut rindu terhadap keluarga yang penuh kehangatan

Photo Meeting Tim KEK / Dokpri.

Manusia berencana tetapi Allah-lah yang Maha berkehendak, menghadiri acara di Cikidang Kabupaten Sukabumi yang awalnya 2 hari ternyata harus diubah karena ada tugas lain menanti. Tanpa banyak bersensasi, segera pamit undur diri dari area Cikidang Plantation Resort yang menjadi tuan rumah pertemuan alias meeting tentang penyusunan proposal pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus di Jawa Barat khususnya dari Kabupaten Sukabumi serta 5 daerah lainnya.

Photo Club House Cikidang dari parkiran / dokpri.

Setelah adzan isya, kami bergerak meninggalkan Club House Cikidang yang berdiri megah diatas bukit penantian. Perjalanan malam membelah kabut yang begitu erat memeluk. Foglamp hampir menyerah karena tak sanggup menembus tebalnya tirai alam yang berbalut misteri. Foglamp alias lampu anti kabut, karena gara-gara satu huruf bisa bermakna lain yaitu froglamp berarti lampu katak, yang gimana itu?…..

Photo : Lampu mobil menembus kabut / dokpri.

Lampu jauh tak berkutik sehingga kami merayap turun penuh taktik, detik demi detik. Waspada menjalari dada, memanjangkan mata dan menjulurkan telinga agar semua tetap baik-baik saja.

Adrenalin merambat naik, detak jantung berdegup bulak-balik. Terasa ada ketegangan memynculkan prasangka, bersatu dengan bebasnya otak membayangkan yang tidak-tidak. Segera ditepis bayangan seram dengan logika dan setangkup doa agar hati tetap damai dan rasa kembali berbunga.

Rush hitam meliuk menuruni jalan berkelok yang licin karena rintik hujan yang tak berhenti, perlahan tapi pasti hingga mencapai jalan besar menuju arah pulang untuk bersua dengan keluarga tercintaaah. Seatbelt tetap terpasang meski duduk di jok belakang, bukan pupujieun tapi guncangan terasa semakin kencang, perlu ada pengikat sehingga kuat bersandar dalam kebersahajaan.

Photo : Toko Moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

Photo : Pilihan moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

1,5 jam berlalu dan tibalah di Kota Sukabumi. Tanpa basa basi segera menuju burung kasuari eh jalan kasuari untuk memborong moci, penganan khas daerah sini yang enak dan aneka rasa. Banyak pilihan toko disini, tapi harap maklum klo kami bapak-bapak muda belanja pasti cari yang praktis. Karena jam 21.00 wib tinggal sesaat lagi, nyaris tak bisa beli moci. Untungnya diberi toleransi dan tanpa basa basi segera masing2 membeli.

Sebelum perjalanan dilanjut lagi, demi bugarnya sang sopir sejati serta berharap menemukan Vsixty maka berlabuh sesaat di Coffee Toffee jl. Suryakencana12 Sukabumi. Tapi ternyata untuk black coffee hanya espresso dan kopi tubruk yang bisa tersaji. Akhirnya double shot espresso Toraja yang membawa pilihan.

Photo Double Shot Espresso Toraja / Dokpri.

Sang sopir larut dengan hot coffee Caffe latte serta vicol pacarnya yang bekerja di ibukota, yaa harap maklum sopir abege.

Hanya 15 menit rehat sudah cukup mengembalikan stamina dan mood untuk segera melanjutkan perjalanan. Selamat beristirahat kawan. Wassalam. (Akw).

Plara-Cikidang-Plara 010817

Catetan sewaktu beredar di Palabuanratu Kabupaten Sukabumi pada Awal Agustus 2017

Photo : Dokumen pribadi

Perjalanan menempuh 120 km dari bandung menuju arah Barat daya provinsi jawa barat tepatnya ke kabupaten sukabumi ditempuh dalam waktu hampir 7 jam perjalanan dengan kondisi traffik yang lumayan padat tersendat. Berarti rata-rata 17 km/jam kecepatan berkendaraan. Penyumbang kemacetan yang cukup signifikan adalah kebijakan buka tutup karena perbaikan jalan di jalan pelabuhan II cikembang. Sehingga kami terdiam menunggu antrian cukup menjemukan.

Berhenti sejenak di area terminal Cikembar untuk menikmati makan siang, ati ayam ditemani telor ceplok bumbu dan sayur paria cukup mengganjal rasa lapar yang mendera. Cukup 10 menit saja maksinya. Rush hitam kembali menyusuri jalan berkelok di menuju palabuanratu.

Photo : Dokumen pribadi

Tiba di lokasi pertemuan, hampir tepat waktu. Ya terlambat 5-10 menit dan segera bergabung dengan Tim Keukeuh Perintis KEK di Jawa barat yang sudah 2 hari lalu bergerak di Kabupaten Sukabumi dalam rangka mendukung optimalisasi fungsi tim GNCP (sasieureun sabeunyeureun) dengan agenda menerima Assesor dari UGG (UNESCO Global Geopark) yaitu dari Rumania dan Korea Selatan dalam rangka penilaian Geopark tingkat dunia juga melihat langsung puluhan geosite yang terbentang di kabupaten Sukabumi ini khususnya koridor Palabuan ratu – Ciletuh hingga Ujung Genteng. Rapat siang ini dalam rangka pembahasan strategis tentang rencana usulan proposal untuk kawasan ekonomi khusus (KEK) di Kabupaten Sukabumi. 

Rapat dipimpin oleh Prof Deny dan Bp Dodi Asisten Ekbang Kabupaten Sukabumi. Dimana Kehadiran Kawasan ekonomi khusus ini adalah fasilitas dari pemerintah yang bertujuan mempercepat investasi masuk ke Indonesia, kawasan dapat meningkat pembangunan infrastrukturnya (klo salah, please koreksi). Termasuk poin-poin penting KEK ini mencakup fasilitasi Perpajakan, kepabeanan, cukai; Lalu lintas barang; Ketenagakerjaan; Keimigrasian dan Perizinan/non perizinan.

Photo : Dokumen pribadi

Syarat yang paling utama menurut Prof Deny adalah status lahan yang clear dan clean. Artinya sudah ada status tanah yang akan diajukan dan dibuktikan dengan sudah adanya sertifikat kepemilikan minimal 100 hektar. Syarat lainnya banyak ada sekitar 17 item, tetapi itu bisa berproses yang tentunya perlu sinergi yang tepat antara pihak-pihsk yang berwenang mengusung yaitu antara pemerintah dan badan usaha, jikalau badan usaha yang menjadi pengusung maka dukungan pemerintah daerah harus betul-betul maksimal karena para pihak ini harus seiring sejalan.

Sebagai calon pengusung KEK di Kabupaten Sukabumi, pa Dani dari Cikidang resort memberikan presentasinya dan menyatakan tertarik untuk menjadi pengusung KEK di kabupaten Sukabumi ini. Meetingpun berakhir dan rombongan melanjutkan untuk mengikuti rubicon kuning meninjau area Cikidang Sukabumi. Perjalanan menuju lokasi ditempuh hampir 1 jam dengan jalan mulus tetapi berliku dan menanjak serta sempit sehingga perlu extra waspada sang pilot mengendarai tunggangannya masing-masing.

Tiba di Lokasi menjelang sore, sejenak rehat sambil menikmati cemilan tradisional. Lalu melihat copy site plan yang ditunjukan sang pemilik. Namun pertemuan tidak bisa lama, karena ada perintah untuk kembali ke Palabuanratu untuk menemani pa Wagub Demiz makan malam, yang rencananya esok akan hadir melepas kepulangan tim Asesor Unesco Global Geopark.

Photo : Dokumen pribadi

Tentu sebelum berpisah diabadikan dulu pose bersama dilatarbelakangi bangunan club house Cikidang yang megah.

Rombongan terbagi dua, ada yang kembali ke palabuanratu dan ada yang lanjut ke Cibadak dan pulang ke Bandung.. of course ke rumah masing-masing. Karena kebetulan penulis masuk kelompok yang balik lagi ke palabuanratu maka tulisan ini berlanjut.

Tiba di sekitar pantai palabuanratu suasana sudah menggelap, segera rombongan kecil menuju rumah makan yang dituju dan….. tadaaa… menu makan malam seafood menyambut… euh menyambut pa wagub maksudnya, kita mah cuman ikut-ikutan.

Photo : Dokumen pribadi

RM Asrie di tepi pantai palabuanratu menyajikan aneka olahan seafood yang menarik selera. Selisih 15 menit, rombongan wagub tiba dan makan malampun dimulai. Sajian udang, kepiting, lobster dan tumis kangkung bersiap disantap. Para pejabatpun berjejer mengelilingi sajian utama bersama sang Naga bonar.

Photo : Dokumen pribadi

Bapak Kadis Kehutanan menemani pa Wagub menyantap lobster, meskipun klo diperhatikan photonya kayak dua orang yang sedang rebutan lobster.. ups maap. Yang pasti pa wagub menikmati sajian yang ada. Penulispun ikutan nimbrung, menikmati makan malam seafood yang melimpah dan gratisss.. karena ada yang bayarin. Hatur nuhun pa Kabiro Umum.

Photo : Dokumen pribadi

Makan malam berakhir ditutup dengan Duren Party, meskipun terus terang nggak berani ngabisin sama cangkangnya, takut disangka ngelmu atau kesurupan.

Gitu dulu yach ceritanya, karena harus segera mencari penginapan di sekitaran palabuanratu yang katanya sudah penuh karena ada even penilaian geopark Ciletuh dari UNESCO yang berlangsung seminggu ini. (Akw).