KEK – Usulan dari Badan Usaha

Belajar memahami tentang prasarat pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus (Special Economic Zone).

Advertisements

Asswrwbr.

Sekarang nulis yang serius ah, berpadu antara suka dengan kerjaan. Meskipun bukan tugas utama tapi khan nggak berat bawa-bawa ilmu mah. Tinggal save di belahan otak da gunakan disaat diperlukan. Gitu aja kok repott…. eit ternyata yang repot itu niat dan waktu untuk baca regulasinyanya, plus yang lebih menantang adalah memahaminya.

Photo : Susana Seminar tentang Kawasan Industri & SEZ / Dokpri.

Tapi patut dicoba khaaan….. akhirnya PP 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan KEKpun di print setelah beberapa bulan terdiam dalam bentuk file di folder laptop tersayang. Alasan di print ya itu tadi…. supaya puas dan (semoga) paham dengan cara dicoret2. Khan ga elok juga jikalau layar smartphone ini dicoret2 hingga penuh goresan.

Mencoba ngebolak balik nih PP, maka didapet kesimpulan awal bahwa dari 7 Bab dan 55 pasal ini terbagi menjadi 5 bagian besar penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus ini yaitu :
1. Pengusulan
2. Penetapan
3. Pembangunan
4. Pengelolaan, dan
5. Evaluasi Pengelolaan.

Porsi terbesar hingga 43,4% atau 23 pasal adalah yang mengatur tentang Pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus baru disusul tentang pembangunan KEK 12 pasal (22,6%) dan sisanya bab lainnya.

Simpulan awal berarti memang proses awal usulan yang banyak ragam aneka cerita, diantaranya adalah calon pengusul yang terdiri dari 4 pihak yaitu Badan Usaha, Pemerintah Kabupaten/kota, Pemerintah Provinsi, Kementerian/Lembaga Negara Non Kementerian. Belum lagi klo wilayah yang diusulkan untuk menjadi KEK ini lintas beberapa kabupaten/kota, beda lagi mekanisme dan persyaratannya.

Tapi jangan khawatir, yuk kita pelajari pelan-pelan. Baca… klo nggak ngarti… baca ulang.. baca ulang, eh kagak ngarti juga ya udah rehat dulu sambil sruput kopi item tanpa gula, moo robusta ataupun arabica yang penting halal. Trus berdoa supaya dibukakan kemudahan belajar dan memahami apa yang ingin kita tahu,… trus ya baca lagi bro.

Sekarang moo bahas tentang pengusulan menjadi Kawasan Ekonomi khusus oleh Badan Usaha, cekidot…

Dasar hukumnya Pasal 12 butir 2 PP 2 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan KEK. Disini disebutkan beraneka syarat manakala badan usaha mengusulkannya, yaitu :

1. Surat Kuasa Otoritas, jika pengusul Konsorsium.
2. Akta Pendirian Badan Usaha.
3. Profil keuangan 3 tahun terakhir audited. Atau kalau perusahaan baru, profil keuangan 3 tahun terakhir dari Pemegang Saham audited. Kecuali, BUMN & BUMD.
4. Persetujuan dari Pemkab/Pemkota terkait dengan lokasi KEK yang diusulkan.
5. Surat pernyataan kepemilikan nilai ekuitas minimal 30% dari nilai investasi yang diusulkan.
6. Deskripsi rencana pengembangan KEK yang diusulkan. Minimal : 1) Rencana, 2) Sumber Pembiayaan dan 3) Jadwal Pembangunan KEK.
7. Peta detail lokasi pengembangan KEK yang diusulkan, serta luas area yang diusulkan.
8. Rencana peruntukan ruang pada lokasi KEK yang dilengkapi dengan peraturan Zonasi.
9. Study Kelayakan Ekonomi & Finansial.
10. Analisis Dampak lingkungan hidup yang sesuai perUUan.
11. Usulan jangka waktu beroperasinya KEK & Renstra Pengembangan KEK.
12. Izin Lokasi.
13. Rekomendasi dari Otoritas pengelola infrastruktur pendukung dalam hal pengoperasian KEK memerlukan dukungan infrastruktur lainnya.
14. Pernyataan kesanggupan melaksanakan pembangunan & pengelolaan KEK.

Ditambah dengan :
1. Formulir usulan (Kelengkapan ini Mengacu kepada Peraturan Menteri Koordinator Perekonomian Nomor Per-07/M.Ekon/10/ 2011 Tentang Pedoman Pengusulan Pembentukan KEK)
2. Komitmen dukungan Pemerintah daerah berupa Nota Kesepahaman antara Kepada Daerah dengan Ketua DPRD Kabupaten/Kota dalam memberikan dukungan finansial, insentif dan keringanan pajak serta kemudahan perijinan dan kemudahan lainnya. Persyaratan ini mengacu kepada pasal 13 Butir 4 PP 2 Tahun 2011.

Itu dulu yach. Selain syarat usulan tentu mekanisme usulan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus adalah hal yang penting dalam bab usulan ini. Tapi sabar yaa, soalnya hari minggu itu jadwal tetap ngasuh anak sholehah nich, yang nggak mau lepas dari ayahnya sambil curi-curi sempat ngetik di notepad tentang KEK ini.

Ntar dilanjut yaa, Wassalam. (Akw)

Nyaah Ka Indung

Nyaah ka indung mah utama, tapi cara jeung rupa tangtu kudu maké rumpaka.

“Huwaaaaaa…… huaaaaaa!!!” sora ema ngahudangkeun saimah-imah. Patinggurudug Enang, Enung jeung Ening ngaboro datangna sora. Kaciri indungna diuk dina risbang, nginghak balilihan. Enang rikat ngusapan tonggong, Enung meuseulan bitis jeung Ening nyusutan cipanon nu ngagarantung dina damis indungna.

“Tos ema teu kedah sedih, palaputra aya didieu ngajagian” Enang ngalelemu indungna. Ma Iroh kalah ngagoak bari nyekelan hapé nu ngajeblag poto Abah almarhum.

Enung mairan, “Insyaalloh Abah tos salamet di kalanggengan, urang kintun du’a waé ma” Enang jeung Ening unggeuk nyaluyuan.
Tapi Ma Iroh angger cirambay bari curukna tutunjuk kana layar hapé.

Teu lila Ma Iroh eureun ceurikna, tuluy nyarita bari dareuda, “Ari nyaraah ka kolot mah, buru eusian pulsa hapé ema atawa téthering, méh bisa muka yutub deui, tadi pareum pas keur kakagokna”

Teu talangké tiluanna lumpat ka enggon séwang-séwangan. Enang ngahurungkeun téthering, Enung jeung Ening meuli pulsa maké internét béngking. Ema Iroh répéh ceurikna. Tengah peuting jadi jempling deui. (Akw)

*Manusia Bertajuk Waktu* 2)

Lanjutan cerita tentang asa bersua rencana, memupuk cinta fana dan menuju akherat sana, tapi jangan lupa bahagia.

Alhamdulillah, lanjutan tulisan tentang *Manusia Bertajuk Waktu* yang merupakan penangkapan dari tauziah Ustad Aam Amiruddin bisa dilanjut lagi….. beginih lanjutannya :

Photo : Mentari mengintip di taman belakang gesat / dokpri.

Life is temporary alias hidup itu sementara. Setelah ditulisan sebelumnya menyampaikan 4 persefektif pembagian waktu yaitu :
1. Ad dahru.
2. Al maukut.
3. Al ashr.
4. Al Azl.

Maka sekarang membahas tentang bagaimana supaya kita bisa menggunakan waktu yang dimiliki atau dinikmati secara berkualitas.

Pertama, senantiasa Khusnudzon atau berbaik sangka. Jikalau mendapatkan informasi dan berita, lakukan Tabayun (cek & ricek dan crosscheck), apalagi sebagai pemegang amanah jabatan. Harus tabayun disaat menerima informasi sepihak sehingga keputusan atau kebijakan yang diambil tidak mendholimi orang lain atau pihak lain. Disisi lain manakala berhadapan dengan orang yang tidak suka, iri dan dengki maka tetap berkhusnudzon dengan mode waspada. Karena dalam hidup ini senantiasa ada 3 sikap manusia di sekitar kita yaitu : Suka – Tidak Suka – Tidak Peduli. Seperti cerita Lukman bersama anaknya membawa keledai.

Kedua adalah sikap Harus menerima apapun yang Allah SWT tetapkan untuk kita yaitu Takdir. Baik buruk, senang sedih adalah episode paket kehidupan, sikap menerima ketetapan Allah-lah yang menjadikan waktu kita berkualitas.

Ketiga adalah Lakukan selalu Muhasabbah atau Introspeksi diri dari semua yang telah dilakukan, dilaksanakan dan di jalani. Jikalau dalam pekerjaan terdapat kesalahan, jangan menyalahkan orang lain atau anak buah tapi introspeksi dulu dan kalau kita yang salah maka gentle mengakui bahwa itu kesalahan kita.

Sebagai contoh adalah kisah Nabi Adam A.S. Banyak yang meyakini bahwa Nabi Adam diturunkan oleh Allah ke bumi karena memakan buah khuldi di Surga. Padahal di dalam Alquran tidak ada ayat yang menjelaskan itu. Dalam QS Albaqarah 30-37 disebutkan bahwa Nabi Adam A.S terusir dari surga karena mendekati pohon khuldi dan setan menggelincirkannya.

Tetapi Nabi Adam tidak menyalahkan setan sebagaimana tercantum dalam QS Al A’raf 27. Begitupun kita, belajar untuk tidak menyalahkan pihak lain.

Terakhir, Keempat adalah Jalani hidup ini dengan keyakinan bahwa semuanya ada batasnya. Senantiasa berbuat baik, niscaya kita atau anak keturunan kita yang akan menuai kebaikan itu.

Hatur nuhun, itulah sekelumit tulisan yang berasal dari penangkapan dengar tauziah senin pagi di Mesjid Al Muttaqien Gedung Sate.

Photo : Merumput segar di Taman belakang / dokpri.

Tuntas dengerin tausiah ternyata waktu apel pagi masih jauh. Maka segera beranjak berganti kostum yaitu kaos dan sepatu olahraga. Bergerak dan bergerak menyecap segarnya pagi di kehijauan taman gedung sate. Berbagi lembutnya embun dengan sang pucuk rumput yang menanti setia datangnya hangat mentari membawa hari-hari berseri.(Akw).

*Manusia Bertajuk Waktu*

Jalani hari berburu waktu, bersama dinginnya pagi dan semilir keengganan untuk meraih waktu yang berkualitas.

Photo : Gedung sate ba’da Shubuh / dokpri.

Sentuhan dingin di senin dini hari telah menjadi teman sejati. Membelah temaram berteman lampu jalan, sudah lumrah dan malah berwujud sebuah kebutuhan. Menjalani perlahan dan menjadi kebiasaan, terhindar dari crowded nya kemacetan senin pagi sekaligus nge-cas keyakinan agar nambah paham dan juga bersua dengan banyak kawan.

Senin pagi (06/11) ba’da sholat shubuh, ustad Aam Amiruddin yang memberikan tauziah dengan judul : Manusia dalam Perspektif waktu.

Sambil terantuk oleh ngantuk, terbuai oleh suasana senyap. Jemari berusaha menari diatas keyboard smartphone, menuliskan rangkaian kata bermakna untuk ditulis semampunya. Mari kita simak gan :

Assalamualaikum Wr Wbr.
Manusia selalu bertransformasi, beradaptasi menyesuaikan dengan keadaan, tetapi ada yang tidak merasa berubah, itulah uniknya.

Terdapat 4 (empat) istilah yang terkait manusia dalam dimensi waktu yaitu :
1. Ad dahru.
2. Al maukut.
3. Al ashr.
4. Al Azl.

Pertama adalah Ad dahru, dimana manusia itu asalnya tiada.. menjadi ada dan selanjutnya tidak ada. 100 tahun lalu kita tidak ada, sekarang ada hadir kedunia tanpa bisa memilih dilahirkan dimana, oleh siapa dan menjadi suku mana atau menjadi bagian bangsa mana. Sehingga yang masih mengutak atik suku bangsa dan asal muasal, itu termasuk Jahiliyah lho (kata pa Ustad).

Setelah itu kita semua tiada, meninggalkan dunia fana sesuai dengan hitungan masing-masing yang merupakan rahasia.
Perbandingan lamanya hidup di dunia dibanding kehidupan akherat menurut sabda Nabi Muhammad adalah “Celupkan ke air laut, kehidupan dunia bagaikan air yang ada ditelunjuk sementara Kehidupan akherat adalah air yang ada di samudera”. (Punten klo ga lengkap seperti Haditsnya ya….)

Kedua adalah Al Maukut yang berarti bagaimana manusia memanage waktu. QS Annisa 103. Dalam hal memanage waktu harus definitif seperti waktu sholat, jelas batasnya jelas saatnya. Sehingga kehidupan inipun harus jelas program kerjanya, rundown-nya gimana, kapan dan siapa yang menjadi pelakunya. Mari kita terbiasa menetapkan waktu secara definitif, nggak boleh terlalu abstrak dan jangan ambigu.

Ketiga adalah Al Ashr, semua pasti udah tahu surat ini, surat yang rutin dibaca sholat menemani kulhu dan inna a’toina. Pengertiannya disini adalah bagaimana manusia mengisi waktunya dengan berkualitas. Waktu 1 hari tetap 24 jam, tetapi cara mengisi waktunya masing-masing individu berbeda. Contoh waktu 1 jam antara magrib dan isya diisi oleh si A dengan membaca Alqur’an sementara si B menonton televisi dengan tayangan yang gitu-gitu ajah. Nah menurut ajaran Islam, orang yang beruntung adalah orang yang bisa mengisi waktu dengan berkualitas.

Yang terakhir, keempat adalah Al Ajl yaitu Ajal. Dalam QS Yunus ayat 49 disebutkan bahwa setiap umat ada ajalnya, setiap orang tidak ada yang bisa menangguhkan dan mempercepatnya. Selanjutnya dalam QS Annaml ayat 96 disebutkan bahwa.. yang ada digenggamanmu akan habis…. rambut memutih, rontok, gigi morolok karena semuanya fana. Termasuk kecerdasanpun akan menurun seiring waktu. Semua ada ujungnya, pegawai pada akhirnya pensiun juga. Khusus pegawai yang punya amanah jabatan, antisipasi dari sekarang masalah post power syndrome dengan cara perkuat iman agar ikhlas menerima kenyataan.

Demikian tangkapan dengar cernaan pikir dari hamba yang penuh kekurangan tentang tauziah senin pagi minggu ini. Ada sambungannya tentang bagaimana cara supaya waktu yang dimiliki temporary ini berkualitas… bentar lagi ditulis dulu.

Sementara ini dulu. “Kucing ungu berkencan sambil tersenyum cantik, sabar menunggu sambungan karena sedang diketik” Wassalam. (Akw).

Baradé lurrrr!!!…

Baheula nu geus kasorang, kapungkur nu masih nunutur. Ulah janten bangbaluh tapi ropéa janten pangaweruh supados tetep lingsig tur lintuh.

Photo : Spion di buruan masjid / potlang.

“Harita mah pakaya jeung pangajén meuni dalit dina kahirupan amang….”, dongéng mang Usa bari pepeta, mertélakeun pangalaman keur jegud loba pakaya. Meuni pogot jeung rada somseu, tanggungan cingcau diantep heula da keur anteng bacéprot nyarita jaman harita.

Sanajan meureun dongéng hirupna dibalur ku wadul sawaréh, kanyataan sawaréh. Sanajan matak uruy bin kabita, tapi da geus kaliwat. Ayeuna ukur jadi sauted carita sapuruluk dongéng nu bakal ngahiang ukur ku angin halimpu nu ngaliwat teu loba ucap.

Mang Usa masih bacéo, pepeta bari surungah séréngéh. Nu ngadéngékeun patingkoléséd, bedo rék meuli cingcau dan nempo nu dagangna lain ngaladangan tapi ngadon norowéco teu eureun ngomong. Mang Usa beuki motah, taneuh dirawu tuluy dihuapkeun. Cingcau dikeduk bari dibalédogkeun kanu araya, atuh kabéh paburisat nyalametkeun diri. Lain pedah bisi nyeri dibalédog cangcau, tapi horéam wé lamokot héjo bari geunyal.

Mang Usa maceuh bari ngagerem, panon beureum tapi rambisak. Teu lila léwéh, nangkuban dina sisi tegalan, nginghak tuluy gagaukan. Puluhan pasang panon nyerangkeun, tapi teu wani ngadeukeutan da sieun kumaonam.

Teu lila mang Usa eureun ceurikna, cengkat bari nempo ka sakurilingna, tuluy ngagorowok, “Baradé cingcauna lurrrr!!!” Leungeunna lamokot taneuh tegalan jeung késangna. Nu nempokeun dumareuda.(Akw).

Levitasi di tanah Sriwijaya.

Akhirnya mencoba loncat lagi dengan segenap perjuangan dan pengorbanan akibat meroketnya berat badan.

Perjalanan kali ini menyeberangi Selat Sunda menuju Pulau Sumatera, itu kalo perjalanan darat dengan mobil – naik kapal feri – naik mobil lagi. Klo via udara ya lurus aja kali… dari Bandara Husein Sastranegara hingga mendarat di bandara Sultan Mahmud Badarrudin II. Bandara ini berjarak kurang lebih 45 menit dari Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Maka kamipun dari Bandung sudah berbatik sehingga turun di pesawat bisa langsung naik mobil menuju tempat pertemuan tanpa perlu berganti pakaian. Jikalau ada keringat maks tinggal disapu dengan deodoran atau parfum yang setia menjadi kawan perjalanan. Turun dari mobil langsung kunjungan, praktis khan?…

Diluar kunjungan itu, ada target lain yaitu nambah koleksi Jumpshot dan Levitasi. Kesempatan pertama photo loncat dilakukan sambil peninjauan pintu gerbang Tol Palindra (Palembang – Indralaya), tapi ternyata gagtot (gagal total) apalagi suhu udara dan terik mentari menyengat ubun-ubun kami sehingga hasilnya seperti ini.

Photo loncatan yang gagtot / dokpri.

Jangan ngledek ya warganet, tapi perjuangannya wajib diapresiasi. Kesempatan kedua di sore hari berhasil menjadikan momen loncat yang indah (kata yang loncat). Perjalanan dengan perahu selama 1 jam menyusuri sungai Musi hingga tiba di Pulau Kemaro. Berpusing-pusing eh berputar-putar mengelilingi pulau kecil ini hingga akhirnya berJumpshot berlatar belakang pagoda kelenteng yang cerah penuh warna.

Photo : Semangat meloncat / dekpri.

Ternyata loncatan perdana berbuah tertawa karena disaat meloncat, jilbabnya ikut terbang dan menutupi mukanya. Jadi buat para abege puteri yang berjilbab juga ibu-ibu yang sudah berumur agar hasilnya maksimal, bukan wajah jadi ketutupan kerudung.

Photo : Jumpshot Kura2 Ninja / dokpri.

Gaya pertama adalah jumpsot Kura-kura Ninja dengan pakaian serba hitam menghasilkan photo loncat yang (bisa jadi) kenangan. Meskipun smartphone harus terjatuh dari saku pakaian karena tak siap pas dipaksa meloncat mendadak.

Photo : Levitasi (maksa) di P. Kemaro / dokpri.

Untuk photo levitasi kali ini belum mendapatkan hasil sempurna, banyak faktor terutama mancungnya perut dan otomatis berat badan meningkat sehingga ripuh bin repot untuk ngambil adegan levitasi. Yach segini ge lumayan.

Photo : Mentari sore di P.Kemaro / dokpri.

Sebelum meninggalkan pulau Kemaro ini tak lupa abadikan mentari sore yang tak lama lagi akan tenggelam di ujung cakrawala. (Akw).

Tanjung Lago2

Bergerak menyusuri aliran sungai dan rawa, menuju tanah pengabdian yang ternyata penuh kejutan dan pelajaran tentang nilai kebersamaan.

Photo : Jembatan Ampera di Sungai Musi / Dokpri.

Sambil menikmati semilir angin sore, wajah lelah berganti cerah. Meski kami beda asalnya tapi disini kami sama, nasiblah yang mempersatukan dalam agenda Latsitarda, sebuah wahana latihan bersama lintas matra multi institusi pendidikan kedinasan untuk beintegrasi bersama. Hilangkan ego demi menjadi bagian dalam pembangunan bangsa yang diawali pengabdian kepada rakyat diseantero nusantara.

Perahu yang kami tumpangi adalah perahu terakhir, 4 perahu telah duluan meluncur membelah rawa. Kami harus menanti sang nakhoda yang sibuk memperbaiki mesinnya yang katanya sedikit bengkok karena sesuatu di rawa sana pada saat perjalanan menjemput kami.

Setelah menunggu 45 menit, perahu dinyatakan laik jalan maka kami satu persatu naik. Selanjutnya duduk seenaknya…. disinilah kami, diatas rawa tak jelas arah duduk berjuntai menikmati suasana tanpa ada pelatih kepala, sesaat terasa merdeka sambil menikmati roti kelapa yang tersisa. Tetapi kesantaian kami terusik mulut usil pengemudi perahu, “Bapak-bapak maaf, kakinya jangan di berada di luar perahu, berbahaya”

Photo : Moncong ikan lupa namanya yang hidup di Sungai Musi / dokpri.

“Ah bapak, bahaya apanya?. Ini sungai tenang begini” Kawanku menjawab sedikit angkuh dan kami sepakat meng-amini.

Lelaki tua itu tersenyum, tanpa banyak cakap tangannya membuka roti kelapa yang tersisa. Lalu melemparkan ke sungai di dekat ujung kanan perahu. Sambil tangan kirinya memegang kemudi perahu. Kami hanya melihat atraksi ini tanpa atensi, cuek aje.

Tapi……. gemericik air tenang berubah menjadi kengerian karena hanya hitungan detik disamping kanan kami terlihat tiba-tiba gambaran jelas moncong buaya muara yang menyantap roti kelapa lalu kembali ke dalam air dengan menyisakan siluet tubuh kekar ukuran 3 meteran dan ombak kecil memberi pesan kegarangan. Kami bersepuluh bagai terhipnotis sihir alami, serempak menarik kaki menjuntai kami dipinggir perahu, terdiam sambil berpandang-pandangan, kengerian itu membekas, dalam.

“Baru kemarin ada yang hilang di seret buaya, karena tak mau dengar peringatan saya. Dicari sudah tak ada jasadnya”, terdengar suara datar sang pengemudi perahu yang semakin mengukuhkan kengerian ini. Untuk sesaat luntur sudah kegarangan dan kegalakan senioritas di ksatrian berganti rasa kerdilnya diri dihadapan alam yang merupakan sentilan dari tuhan, Allah Subhanahu Wataala bahwa kita manusia itu tidak ada apa-apanya hanya seperti setitik debu tiada arah.

Photo : Ikan Buaya / Dokpri.

Perjalan menyusuri sungai rawa ini terasa begitu sepi dalam kebisuan, kami semua waspada karena ternyata alam liar penuh kejutan. Air sungai yang dirasa tenang ternyata menyimpan rahasia kehidupan yang mendalam. Siapa sangka bahwa dibawah kami ikut pula berenang buaya besar dan ikan raksasa…. sungguh ngeri membayangkan semuanya.

Suara serangga sore menyambut hadirnya kami yang melintas di wilayahnya. Suara alam yang menenangkan sekaligus menegangkan. “Hey kawan coba lihat di pohon besar depan sana!!” Joni anak Akpol berseru sambil menunjuk. Terlihat pohon besar yang diisi oleh sosok seperti manusia dengan jumlah sangat banyak. Ternyata monyet berwarna abu sedang bercengkerama bersama!!!. Kami merasa senang karena ada hiburan, tetapi peringatan pengemudi perahu melumerkan lagi nyali kami yang sempat menguat, “Maaf jangan pada ribut, monyet itu bisa menyerang, mencakar, menggigit dan melukai kita”…. semua terdiam dan waspada.

Benar saja, pada saat melewati pohon besar atau pohon raksasa yang semakin jelas berada di depan mata. Terlihat beratus monyet berwarna abu kehitaman karena sedikit tersaput kabut sore, sungguh kawan… itu bukan hitungan satu hingga sepuluh monyet, tapi ratusan!!! Jadi inget Film The Rise of The Planet of The Apes, dimana manusia jadi budak dan monyet sebagai penguasa planet bumi.

Photo capture film dari gugel.

Perlahan tapi pasti perahu gethek kami mendekati… mendekati dan detik-detik yang menegangkan begitu memompa adrenalin kami. Tangan waspada memegang apapun yang mungkin dijadikan senjata jika terjadi penyerangan tiba-tiba.

Pelan-pelan dengan kecepatan normal, perahu bisa melewati pohon raksasa tempat bersemayam ratusan monyet…. mungkin ini kerajaan monyet. Satu meter… ua meter… perahu melewati kerumunan, tiba-tiba terlihat dari dahan yang cukup tinggi, seekor monyet besar menunjuk-nunjuk ke perahu kami. Serempak semua monyet menengok dan berteriak dengan suara khasnya, “Nyeeet… ngok… arrggg.. grok.. grok…nyet.. nyeet” menggema suara ancaman bak orkestra kematian, kami saling memandang dengan wajah siap bertarung untuk menunggu komando perlawanan. Gemuruh suara teriakan ratusan monyet terus terdengar di belakang, tetapi kami lihat tidak ada yang mengejar. Lega lah rasa beban di dada ini. Semua penumpang perahu menarik nafas melepas ketegangan.

Pengemudi eh pak tua nakhoda kapal terkekeh, “Jangan tegang begitu pak, mereka berteriak itu adalah kata-kata sambutan selamat datang” Kami semua melongo, “Serius pak?, tadi begitu menegangkan loh” Mas Abud bertanya dengan nada tak percaya. “He he he he… kalau penyerangan, mereka sudah ngobrak ngabrik nich perahu dan kita semua” .... hiy sungguh seram memikirkannya. Berarti tadi itu teriakan pertama, “Hei kawan tuch ada manusia-manusia lucu pake perahu” Lalu disambut teriakan dari monyet lain, “Iya manusia… hallow”
“Mereka imut-imut, gemes”
“Mirip kita yach”
“Badannya pada sixpack ya?”
Serta beragam komentar lainnya dalam bahasa monyet yang tentu tidak dimengerti, berarti ketegangan tadi terjadi karena faktor bahasa.. ahai, jadi pengen kursus bahasa monyet, tapi dimana?….

Riak air sungai tertutup kabut seakan kami semua sedang menuju dunia lain, udara lembab menusuk hidung memberi sensasi ketegangan lain. Kaki bersepatu lars tetap berada dalam perahu karena khawatir ada mulut buaya yang mengikuti dibawah perahu ini. Dzikir menjadi pegangan diri, menenangkan galaunya rasa yang terus menggelora. Dalam benak kami, “Apalagi yang akan terjadi?”

Satu hal yang pasti ketegangan ini memberi sensasi sendiri, memacu adrenalin dan merekatkan silaturahmi. Kami yang bersepuluh dari asal yang berbeda serasa telah menjadi sodara lama karena berjuang bersama melewati pengalaman menegangkan di alam yang liar penuh kejutan.

Akhirnya setelah menerjang kabut bersaput senja. Perlahan tapi pasti atap perkampungan terlihat nyata, kami melinjak gembira seolah telah lepas dari alam liar dan kembali ke peradaban. Perjalanan dengan perahu gethek selama kurang lebih 3 jam melintasi sungai rawa di Sunatera Selatan ini menjadi pengalaman tak ternilai. Menjadi momentum untuk tafakuri diri bahwa manusia itu bukan apa-apa, tiada daya tanpa kuasa Allah Sang Maha Pencipta.

Didepan kami sungai membentang dengan lebar sekitar 50 meter, disamping kanan terlihat bangunan yang terang dengan lampu penerangan. Terlihat 6 perahu gethek dan satu speedboat tertambat di dermaga sederhana. Kami perlahan mendekat…. mendekat.. mendekat.. Alhamdulillah. Beberapa sosok tubuh dan uluran tangan menyambut kami. Bergerak menginjak dermaga, dan terlihat ada plang lusuh tertempel di bangunan tersebut, ‘Dermaga Tanjung Lago’.

Bersambung…….

(Akw).